Sunday, 20 October 2013

Bahasa Enggris





Walaupun pernah jadi guru, saya sebenarnya tidak cukup berkompeten untuk mengutarakan pendapat mengenai hal-hal seputar pendidikan. Tetapi penghapusan bahasa Inggris di SD tiba-tiba membuat kompetensi saya jadi galau dan gatal. Rasanya pemerintah, terutama diknas, begitu konyol dan gegabah membuat keputusan tersebut. Bayangkan, sampai orang seperti saya bisa ikutan bicara permasalahan tersebut.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa kebijakan menteri pendidikan berikut para ahlinya sering kali berbuah kontroversi. Lha,kok, masih dilanjutkan. Apa kurang kerjaan? Sungguh-sungguh susah dinalar.

Dulu saya, walaupun tidak tahu sejarahnya, ketika sudah jadi guru yang berpura-pura kritis, sering memepertanyakan tujuan diajarkannya bahasa Inggris, terutama di SD. Untuk apa? Lha wong bahasa Indonesia aja belum jedhag, kok, diajarin bahasa lain. Beda perkara kalau SMP. Mungkin, kata teori,  sudah lebih siap, apa lagi SMA sudah harus tentunya. Ini,kok, SD sudah belajar bahasa Enggris. Edduun!

Tetapi semua tadi,sih, oke. Pendidikan akhirnya kan tidak bisa menghindar dari cengkeraman pasar, terutama pasar industri. Kita semua tahu bahasa Inggris adalah lingua franca atau bahasa pergaulan Internasional. Entah apa alasan dipilihnya. Itu tidak penting. Yang jelas bahasa Inggris wajib dikuasai terutama bagi yang ingin bergaul secara internasional. Titik.

Jangankan mata pelajaran bahasa Inggris yang asing, kurikulum kita memang sering kurang kongkret dalam membuat tujuan pembelajarannya. Alhasil guru-guru yang merupakan ujung tombak di kelas dituntut sepandai dewa untuk bisa mengajar. Mana mungkin? Mereka sering diorientasi dan membuat arah sendiri. Semua terkesan meraba-raba. Kemungkinan  begini, kemungkinan begitu, ini yang pas, itu yang sesuai sekolah kami, dan seterusnya.  Gilanya itu dianggap sebagai “disesuaikan dengan karakter sekolah bersangkutan” oleh pemerintah. Ini, kan, kelucuan berikutnya dari pemerintah.

Kembali pada pelajaran bahasa Inggris yang hilang. Dulu pelajaran ini bisa lahir karena dimasukkan dalam dalam muatan lokal. Lha, lokalnya di mana? Jelas-jelas interlokal gitu,lho! Sudah begitu, banyak orang tua bangga kalau anaknya bisa tahu beberapa “words” bahasa Inggris. Mereka menganggap anaknya maju serta diam-diam tapi malu merasa status sosial-akademis keluarganya meningkat. Nggak kayak orang-orang kampungan sono,tuh!  Imbasnya sekolah anaknya makin moncer dan makin laris. Maka segera lahir atau dilahirkan paksa sekolah-sekolah serupa. Yang penting SD yang ada bahasa Enggrisnya. Meramaikan persaingan sempurna pasar pendidikan kita. Thing!

Setelah kejadian tersebut berlangsung cukup lama dan bisnisnya meraup untung, tiba-tiba pemerintah membuat kebijakan baru yang mengejutkan dengan penghilangan slot pelajaran bahasa Inggris pada tingkat SD. Bagi kalangan yang ultranasionalis dan konservatif hal ini dianggap angin segar kebangkitan pendidikan terutama menyangkut nasionalisme karena bahasa Indonesia berkuasa, namun bagi kebanyakan praktisi pendidikan yang melek kenyataan, itu menimbulkan tanda tanya besar karena dasarnya entahlah. Lebih bingung lagi bagi pengajar bahasa Inggris SD. Mungkin langsung jatuh miskin. Sial betul. Pemerintah sungguh-sunguh melakukan lompatan mundur yang tidak perlu. Ditambah justru slot pelajaran agama diperbanyak dengan tujuan memperbaiki akhlak. What?? Memangnya akhlak anak-anak SD kita sudah rusak? Apa tidak terbalik? Justru Para terhormat itulah yang semestinya mendapat les tambahan agama agar bisa menyelenggarakan pemerintahan sesuai kehendak Yang di Atas,to?

Ya, Tuhan, ampunilah pemerintah yang tidak tahu apa yang dia perbuat. Itu kata orang beriman. Tetapi apa lacur kebijakan itu harus tetap direalisasikan. Entah apa yang terjadi dengan praktiknya di sekolah-sekolah dasar sekarang, apalagi yang muridnya anak-anak elit-kaya yang berorientasi internasional. Bisa jadi masih banyak yang menyelenggarakan pelajaran bahasa Inggris dengan "metode siluman" sebagai strateginya karena sudah dinyatakan sebagai "pelajaran terlarang". Karena tanpa pelajaran bahasa Enggris bagaikan sayur tanpa garam. Sekolah kehilangan salah satu daya tariknya. Sudah menjadi kebiasaan bila ada sekolah yang berani melawan pemerintah akan dianggap hebat, apalagi kalau bisa mengelabui peraturan yang dipandang merugikan mungkin bisa dianggap sebagai sekolah yang heroik. Makin banyak pula penggemarnya antri membeli formulir pendaftaran. Tetapi semoga tidak. Semoga pemangku sekolah sadar akan hukum dan menjunjung tinggi walupun itu masih kontroversial, perlu diuji, dan menyebalkan.

Terlepas dari semuanya di atas, sebenarnya bahasa Inggris memang sungguh-sungguh dibutuhkan oleh semua pelajar di Indonesia. Akan tetapi tujuannya mesti direvisi menjadi lebih nyata dan fungsional. Jangan sampai siswa-siswi ketika ulangan bisa mendapatkan nilai sembilan puluh tetapi saat nanti menempuh pendidikan lanjut di luar negeri langsung stress berbulan-bulan. Akhirnya pendidikan di Indonesia selama bertahun-tahun sia-sia dan kalah dengan pendidikan “matrikulasi terpaksa “beberapa bulan di luar negeri. Kalu begitu memanglah benar bahwa mata pelajaran bahasa Enggris tidak perlu ada. Sia-sia dan buang-buang waktu maupun dana. Toh, pada akhirnya orang bisa menguasai kalau sudah belajar ke luar negeri.

Melalui tulisan ini sebenarnya saya mengajak para guru, terutama guru bahasa Inggris yang tertindas untuk lebih berani dan kreatif terhadapi arah dan tujuan peyelenggaraan mata pelajaran ini. Walaupun orientasi pemerintah sampai saat ini masih blur, namun tentu sebagai guru jangan sampai ikut-ikutan blur bahkan buta. Tunjukkan bahwa pilihan pemerintah dengan menambah slot pelajaran agama bukan satu-satunya pilihan bijaksana bagi siswa untuk mengarungi jaman modern. Bagaimana mungkin menunjukkan akhlak tanpa bahasa yang benar? Bukankah seseorang dinilai dari budi dan bahasanya?

Siswa-siswi Indonesia membutuhkan bahasa Inggris secara komunikatif. Namun bukan sekedar bisa bicara seperti saat beretemu turis asing. Yang diperlukan sebagai sumbangan kemajuan untuk mewarnai daya saing internasional saya rasa adalah membuat orang Indonesia mampu membaca dan menulis bahasa Inggris secara komunikatif, baik untuk pergaulan maupun situasi resmi. Jelas ini sulit, bahkan bule pun tidak semuanya sanggup. Berbicara dalam bahasa inggris bukan merupakan sesuatu yang sulit, hanya butuh kebiasaan saja. Cukup dengan pertukaran pelajar selama sekurang-kurangnya satu bulan pasti bisa bebicara bahasa Inggris, dengan catatan digunakan secara aktif. Sedangkan membaca dan menulis membutuhkan skill khusus. Tidak bisa dicapai dalam sebulan dua bulan. Skill tentu ada ilmunya. Ilmu tentu butuh waktu, kesabaran, metoda, dan sistematika, serta diujicobakan.

…Eh, sebenarnya saya nulis apa,sih? Ada usul??

Monday, 25 March 2013

you'll never walk alone



                                                                                      I really love this picture...